Sumber foto: Poster Thunderbolts*. /Instagram @marvelstudios

Marvel Studios akan mengakhiri Fase 5 MCU dengan Thunderbolts (2025), film yang beda dari kebanyakan kisah superhero. Bukan soal pahlawan ideal, tapi tentang orang-orang yang pernah gagal, pernah jadi senjata, pernah dipermalukan dan kini dipaksa bekerja sama.


Thunderbolts mempertemukan karakter-karakter dengan trauma dan masa lalu gelap dalam satu tim. Mereka tidak saling percaya, tidak cocok, dan sering bentrok. Namun, di tengah konflik itulah mereka tumbuh, meski pelan dan penuh luka.


Dikenal dari film Black Widow, Yelena Belova kembali hadir. Yelena adalah sosok yang terlatih untuk membunuh, tapi sebenarnya sedang mencari ketenangan batin. Di tim yang isinya penuh ego dan trauma, Yelena sering jadi suara yang menenangkan.


Dia adalah tipe orang yang mencoba menjaga semuanya tetap waras, meskipun dirinya sendiri belum sepenuhnya sembuh. Pernah merasa jadi penengah di antara teman-teman yang keras kepala dan beda arah? Yelena adalah kamu.


Bucky Barnes juga hadir, mantan prajurit yang pernah jadi senjata Hydra, Bucky kini berdiri sebagai pemimpin tidak resmi di Thunderbolts. Bukan karena dia merasa paling benar, melainkan karena dia tahu rasanya hancur dan tetap berdiri.


Di tengah kekacauan, Bucky adalah figur yang bisa diandalkan, meskipun dirinya juga belum selesai dengan masa lalu. Mirip mahasiswa yang lagi burnout tapi tetap harus memegang tanggung jawab kelompok? Kamu adalah Bucky.


Dulu dijadikan pengganti Captain America, tapi gagal total. John Walker alias U.S. Agent tetap membawa tekad besar dan kemampuan bertarung, tapi juga ego yang tinggi dan sikap sulit diajak kompromi.


Dalam tim, kehadirannya bisa memecah atau memaksa orang lain bertahan. Pernah satu kelompok sama orang yang selalu merasa paling benar? U.S. Agent bisa jadi simbol dari konflik itu sendiri.


Thunderbolts bukan tim yang harmonis, tapi mereka tetap bergerak. Justru karena ketidakcocokan dan konflik internal itulah mereka berkembang. Setiap karakter membawa luka, tapi juga semangat untuk berubah.


Film ini jadi pengingat bahwa kamu tidak harus sempurna dulu untuk bisa mulai. Kadang, justru di tengah kekacauan, kita bisa belajar saling memahami dan tumbuh bersama.


(TSM)


Sumber: kumparan.com | Ditulis ulang oleh Noteful.id